Kamis, 10 Oktober 2019

Ini Cara Gw Ngedidik Anak - Part 1

AKU GAK SALAH - YG SALAH DIA, KAMU ATAU MEREKA.

Dari yg gw tau, pola didik orang tua kita ini sebagian besar hampir sama, mirip", ga jauh beda. Kebanyakan cenderung akan memanjakan dan membela anak, bagaimanapun kondisinya.

Yaa, memang mereka bgtu karena mereka ngerasa sayank. Tapi, banyak juga dari kita yang masih ga sadar bahwa rasa sayank yg berlebihan atau dengan cara yg salah juga bisa bikin pengaruh buruk dalam pembentukan karakter anak.

Keluarga sebagai orang" yg paling deket sama anak, jdi salah satu faktor utama yg mempengaruhi pembentukan karakter anak. Tapi anehnya, masih banyak keluarga di sekitar kita yang nerapin pola didik kolot yg bisa kasih dampak buruk ke karakter anak.

Salah satu contoh yg gw liat bahkan gw alami sendiri:

Masih ingat ga dulu waktu kita baru bisa jalan, masih seneng mondar-mandir kesana-kemari sambil sedikit lari. Kalo kita jatoh kesandung kaki meja atau sofa, trus kita nangis. Coba perhatiin apa yg orang tua kita lakukan..?? Entah di daerah lain, tp di daerah sekitar gw biasanya orang tua akan diemin kita dengan memukul kaki meja atau sofa yg bikin kita kesandung.

'Cup..cup.. cup..., mana yg nakal? ini ya..??' (sambil nunjuk kaki meja tadi) trus dipukul" sambil bilang, 'dah diem jangan nangis lg, meja nya yg nakal udah mama pukul'

Cara itu dah kaya otomatis turun temurun dari orang" tua terdahulu sampe skrg masih diterapin sma orang tua kita, atau bahkan mungkin kita sendiri jg masih bgtu. Padahal pola didik begini bisa bawa dampak buruk buat perkembangan pembentukan karakter anak.

Waktu orang tua mukul kaki meja yg dituduh nakal tadi, secara ga langsung orang tua dah memposisikan meja itu sebagai tersangka yang dianggap salah, dan si anak dlm posisi sebagai yg bener. Padahal, kita sama" tau klo yg salah si anak karena ga ati" smpe kesandung kaki meja.

Lhaa wong dri dulu jg meja itu dah disitu posisinya, bahkan mungkin sebelum si anak itu lahir, meja itu dah ada disitu, ga berubah posisi, dan blm pernah disalahin. Tapi demi mendiamkan si anak, akhirnya tuh meja sekarang jdi dianggap salah demi supaya anaknya diem. Kasus yg laen dengan pola yg sama jg banyak diterapin bgtu ke anak. 

Akibatnya, akan terekam di bawah sadar anak bahwa, AKU GA SALAH, YG SALAH MEJA. Karakternya terbentuk dengan konsep 'KESALAHAN ITU SELALU DILUAR DIRIKU, DAN AKULAH YANG BENAR.'

Nahh, jdi jangan heran klo skrg kita sering liat di setiap masalah dlm hidup, orang cenderung selalu nyalahin orang laen dan ngerasa dirinya bener. Selalu menempatkan kesalahan ada di luar diri dia, dan ga pernah bisa nerima klo disalahin. Lhaa wong emang dididik dari kecil dah bgtu.

Ngediemin anak yg nangis ga harus dgn nurutin kemauannya, atau ngelempar kesalahan ke hal lain dan membenarkan anak walau salah. 

Gw seh cenderung lebih milih untuk tetep diemin anak gw dengan lemah lembut, penuh kasih sayank tapi tetap kasih tau dia kalau dia salah. 

'Cup.. cup.. cup... mana yg sakit, sayank? sini papa usapin biar ga sakit lagi. Gpp kok main lari"an, tp lain kali kalau bisa agak jauh dikit dari meja ya sayank, biar km ga kesandung lagi.' 

Biasanya anak gw langsung ngerti dan ga nangis lagi, walau akhirnya gw harus keluar rumah dan mherogoh kantong buat beliin dia es krim. 😁

Litra Muhammad

Rabu, 03 Agustus 2016

AKU ADALAH SANG GURU SEJATI.


Mereka bilang jalan ke sana itu salah, yang benar mesti lewat jalan sini.. Rasa penasaran ku membawa ku melewati jalan keduanya dan lalu aku menemukan jalan ku sendiri.

Mereka bilang makanan itu tidak enak, yang enak adalah makanan yang ini. Rasa pensaran ku membuat ku memakan ke duanya dan lalu aku menyukai makanan yang menurut ku enak.


Mereka bilang cara itu salah yang benar adalah cara yang begini. Rasa penasaran ku menjadikan ku mempelajari kedua cara tersebut, dan lalu aku menemukan caraku sendiri.

Begitupun kalian tak perlu mengatakan bahwa jalan ku salah, makanan yang ku makan itu tidak enak, atau cara yang kulakukan adalah salah. Kalian tak akan pernah menilai ku dengan tepat, karena yang kalian nilai hanyalah diri kalian sendiri.

Sebab tak akan pernah ada nilai salah dan benar, yang ada hanyalah realita yang ku alami. Sebab aku adalah sang guru sejati.

Jumat, 06 Mei 2016

Sikap yang Tidak Boleh Dilakukan Orang Tua Pada Anak-Anak


orang tua dan anak


Merasa kesal pada anak-anak adalah hal yang lumrah selama orang tua tidak berlebihan. Namun ada kalanya orang tua kehilangan kontrol sehingga mereka melakukan hal-hal yang tidak pantas. Meskipun tampak normal, sikap semacam ini seharusnya dihindari.
Tidak peduli seberapa sibuk seorang ayah atau ibu, adalah tidak tepat untuk melakukan hal-hal yang akan menghasilkan sikap buruk pada anak-anak mereka. Terutama dalam tahap-tahap awal di mana anak-anak sedang dalam pengembangan karakter,  yang kelak akan menjadi bagian tak terpisahkan dengan kepribadian mereka.
Meskipun kadang-kadang hal signifikan dapat terjadi, seperti berteriak pada anak-anak jika mereka mengganggu orang tua mereka ketika sedang sibuk dianggap sebagai hal yang umum, sebagai bentuk disiplin pada anak-anak. Namun, menurut beberapa ilmuwan, melakukan hal tersebut justru dapat memberikan efek negatif pada anak-anak. Anak-anak mungkin merasa terasing, tidak diakui, dan sebagainya.
Oleh karena itu, sesibuk apapun orang tua, atau seberapa banyak stres yang mereka miliki, mereka harus mampu mengendalikan diri dan memperlakukan anak-anak mereka dengan cara yang seharusnya. Apa saja hal-hal yang harus dihindari? Berikut adalah beberapa di antaranya:
Jangan Ganggu!
Hal ini tampaknya seperti hal yang normal. Seorang ibu sibuk memasak di rumahnya. Atau ayah sibuk membaca berita menarik di koran. Atau mungkin juga melanjutkan tugas yang dibawa dari kantor. Lalu ia mengunci diri di kamarnya. Tiba-tiba anak datang dan meminta dia untuk sebuah bantuan. Dalam situasi yang ketat, orang tua dapat berteriak pada anak itu, “Jangan ganggu aku! Aku sibuk! ”
Jika orang tua bertindak seperti itu, anak-anak mungkin merasa tidak berarti karena jika mereka meminta sesuatu pada orang tua mereka, mereka akan diberitahu untuk pergi. Jika sikap seperti itu diterapkan pada anak-anak anda, maka sampai mereka tumbuh dewasa mereka akan merasa tidak ada gunanya berbicara dengan anda. Cobalah alihkan perhatian anak-anak anda untuk melakukan kegiatan lain sebelum anda membantu mereka. Misalnya, jika mereka meminta bantuan anda dalam melakukan pekerjaan rumah mereka dan anda sedang benar-benar sibuk, mintalah mereka untuk melakukan aktivitas lain terlebih dahulu seperti menonton TV. Lalu kemudian, anda bisa datang kepada mereka untuk membantu, asalkan gangguan tersebut tidak terlalu lama.
Memberikan Pernyataan Negatif
Kadang-kadang orang tua merasa marah kepada anak-anak mereka yang tidak melakukan apa yang mereka katakan. Jika anak-anak diminta untuk melangkah maju dalam kegiatan ekstrakurikuler yang melibatkan orang tua mereka, tapi mereka menolak, maka orang tuanya berkata, “Kamu seperti orang yang pemalu!” Pada kesempatan lain jika orang tua meminta anak mereka untuk melakukan sesuatu namun ia tidak melakukannya, mereka mengatakan, “Kamu begitu malas!”
Jenis pernyataan semacam itu dapat menyakiti perasaan anak-anak anda. Mereka akan menjadi seperti  yang orang tua mereka katakan. Ini akan sangat berbahaya jika pernyataan seperti “Kamu bodoh!”, “Kamu nakal!” dikatakan pada anak-anak kita.
Sebaliknya, katakanlah hal-hal positif kepada anak-anak anda. Jika anak-anak anda menerima nilai buruk, jangan mengatakan, “Kamu begitu bodoh!”; Katakan sesuatu yang lain. Sebagai contoh, katakanlah, “Jika kamu belajar lebih baik, kamu akan mendapatkan nilai yang lebih baik daripada ini karena kamu sebetulnya adalah anak pintar.”
Jangan Menangis
Berurusan dengan anak-anak yang bertengkar dengan teman-teman mereka atau merasa kecewa karena perlakuan tertentu harus dilakukan secara bijaksana. Tidak perlu untuk memarahi atau meminta anak-anak anda untuk tidak cengeng. Banyak anak yang mengalami hal tersebut, orang tua mengatakan pada mereka, “Jangan cengeng!”, “Jangan sedih!”, “Jangan takut!”
Mengatakan kata-kata tersebut akan mengajarkan anak-anak bahwa perasaan sedih adalah sesuatu hal yang tidak umum, bahwa menangis bukanlah hal yang baik, sedangkan menangis sendiri merupakan ekspresi dari emosi tertentu yang setiap manusia miliki.
Oleh karena itu, untuk menangani masalah ini, akan lebih baik untuk meminta anak-anak anda menjelaskan apa yang membuat mereka sedih. Jika mereka merasa diperlakukan tidak adil oleh teman-teman mereka, jelaskan pada mereka bahwa perilaku teman-teman mereka adalah tidak baik. Dengan memberikan mereka gambaran perasaan yang mereka rasakan, orang tua telah memberikan mereka pelajaran empati. Anak-anak yang menangis akan segera menghentikan atau setidaknya mengurangi tangisan mereka.
Membandingkan Anak
Memiliki lebih dari satu anak mungkin berakibat membandingkan anak anda satu sama lain. Jika anak kedua tidak bisa memakai pakaian secepat saudaranya, jangan mengatakan, “Lihatlah kakakmu, dia bisa melakukannya dengan cepat. Mengapa kamu tidak bisa melakukannya juga? ”
Perbandingan  hanya akan membuat anak anda merasa bingung dan menjadi kurang percaya diri. Anak-anak bahkan mungkin membenci orang tua mereka karena mereka selalu mendapatkan perlakuan buruk dari perbandingan tersebut (terhadap kakak, adik, atau anak-anak lain), sedangkan perkembangan setiap anak berbeda.
Daripada  membandingkan anak-anak anda, orang tua harus membantu untuk menyelesaikannya. Misalnya, ketika anak mengalami masalah mengenakan pakaian mereka sementara saudara mereka bisa melakukannya lebih cepat, orang tua harus membantu mereka untuk melakukannya secara benar.
Menunda
Ada kalanya seorang ayah atau seorang ibu berada di rumah bersama anak-anak mereka tetapi tanpa pasangan (suami atau istri). Ketika anak-anak melakukan kesalahan, orang tua (baik ayah atau ibu) tidak memberitahu anak-anak mereka tentang kesalahan yang mereka buat dengan segera. Misalnya, seorang anak diberitahu untuk tidak bermain dengan korek api, tapi dia tetap melakukannya. Si ibu hanya mengatakan, “Tunggu sampai ayahmu pulang.” Ini berarti menunggu sampai ayahnya yang akan menghukum nanti.
Menunda mengatakan kesalahan hanya akan memperburuk keadaan. Ada kemungkinan bahwa ketika seorang ibu atau ayah menceritakan kembali kesalahan yang dilakukan anak-anak mereka, ibu/ayah malah membesar-besarkan sehingga anak-anak menerima hukuman yang lebih dari seharusnya. Ada kemungkinan juga orang tua menjadi lupa kesalahan anak-anak mereka, sehingga kesalahan yang seharusnya dikoreksi terabaikan. Oleh karena itu, akan lebih baik untuk tidak menunda dalam mengoreksi kesalahan yang dilakukan anak-anak anda sebelum menjadi lupa sama sekali, dan jangan bergantung pada pasangan anda.
Cepatlah!
Saat sebuah keluarga pergi ke suatu acara dan seorang anak lambat dalam melakukan hal-hal, seperti mengenakan baju atau sepatu, orang tua sering berteriak, “Cepat!”
Sikap ini tidak mendidik anak-anak anda untuk melakukan hal-hal lebih cepat, apalagi jika berteriak juga disertai dengan jari menunjuk dan suara nyaring. Hal ini akan membuat anak merasa takut, bersalah, dan tidak akan membuat mereka bergerak lebih cepat.
Memberikan Pujian dengan Mudahnya
Rupanya, memberikan pujian dengan mudah juga bukan hal yang baik. Memberikan pujian dengan mudah akan terkesan “murah”. Oleh karena itu jika seorang anak melakukan sesuatu yang sederhana, tidak perlu memuji dengan “Luar Biasa! Luar Biasa!” Karena anak secara alamiah akan mengetahui hal-hal yang dia lakukan dengan biasa-biasa saja atau luar biasa.
Sikap di atas sering dipraktekkan pada anak-anak oleh orang tua mereka. Kelihatannya sederhana tetapi dapat menghasilkan karakter yang buruk jika tidak dihindari. Oleh karena itu, di kalangan masyarakat yang kondisinya tampak menyedihkan akhir-akhir ini, perbaikan harus dimulai dari keluarga, sehingga marilah kita memperlakukan anak-anak kita dengan baik.

Sabtu, 30 April 2016

Siapa yang salah..??

Kemaren badan kayaknya capek banget sampe tidur kayaknya nyenyak banget sampe bangun kesiangan..
begitu mata terbuka langsung disambut suara anak yang manggil-manggil..
"papa..papa.." sambil bawa ciki yang baru beli dari warung dia coba menghampiriku..
begitu lewat pintu kamar kaki nya tersandung kaki meja yg akhirnya bikin dia jatuh sama ciki nya..
ngeliat anaknya jatuh, istri ku yg juga mama nyaanak ku langsung menghampiri anak ku, langsung diusap-usap kaki anak ku yg tersandung kaki meja sambil mukul-mukul kaki meja yang bikin kaki anak ku tersandung..
"siapa yang nakal, sayang..?? meja nya nakal ya..??" 
"cup..cup..cup.., dah diem, meja nya dah dipukul" 
kira-kira begitulah kata-kata yang keluar dari bibir istriku sambil mendiamkan anak ku..

jadi inget waktu aku kecil dulu, mama ku juga sering bilang begitu..
kalau aku jatuh karna tersandung atau terpleset, mama pasti mendiam kan ku dengan kata"-kata yang ga jauh beda dengan kata-kata istriku tadi..
dan kayaknya juga hampir sebagian besar orang tua di daerah ku memperlakukan anaknya dengan cara yang sama..

cara mereka para orang tua mendiamkan anaknya dengan menyalahkan meja, lantai atau apapun yg membuat anaknya jatuh, seolah-olah si anak jatuh karena meja atau lantai yang salah..
kesalahan bukan dari si anak, tapi dari si meja atau lantai itu..

padahal lantai dan meja selalu diam disitu..
merekalah kambing hitam para orang tua kalau anaknya nangis karena jatuh tersandung atau terpeleset..

hal seperti itu sering terjadi berulang-ulang kali sampai akhirnya melekat di bawah sadar si anak.. bahkan sampai membentuk karakter pada beberapa anak..

ini cara yang dilakukan sebagian besar orang tua dalam membesarkan anaknya..

maka ketika anak-anak ini besar, ga jarang yang akhirnya ketika anak-anak ini jatuh dan terpleset ke dalam permasalahan hidup, anak-anak ini akan selalu menyalahkan diluar diri nya..
menyalahkan kaki meja yang diam tanpa bisa bergerak..
menyalahkan lantai yang bahkan ga bsa berkata-kata..

maka ketika anak-anak ini tumbuh menjadi anak dewasa yang ga pernah mau disalahin atas kelakuannya sendiri, siapa yang salah..??
maka ketika anak-anak ini tumbuh dengan didikan bahwa dia ga pernah salah dan yang salah adalah kaki meja dan lantai sehingga terbentuk ego tak ingin disalahkan, siapa yang salah..??

kebiasaan-kebiasaan kecil seperti ini ketika dilakukan berulang-ulang kali bahkan sampai ribuan kali, dapat membentuk karakter anak..

maka, aku mengajak semua yg membaca ini, temenku, saudaraku, keluargaku, bahkan musuhku, mari mulai memberikan pengertian kepada anak-anak kita bahwa ketika mereka jatuh, yang salah bukan lah meja, karna meja selalu diam disitu..
ketika mereka terpleset, jangan salahkan lantai, karna lantai akan tetap seperti itu..
kita lah yang harusnya bisa menyesuaikan keadaan supaya tidak tersandung..
kita lah yang seharusnya bisa menyesuaikan keadaan supaya tidak terpeleset..

selamat pagi..

semoga kita menjadi orang-orang yang bisa menahan ego diri..

untuk istri ku tercinta :
"mulai besok mama harus rubah cara mendiamkan Litra klo dia nangis karna jatuh"

Litra Muhammad

Pertolongan Pertama Pada Kehidupan (P3K)

Sediakan kotak P3K (Pertolongan Pertama Pada Kehidupan) dalam kehidupan kita. Di dalamnya, ada 7 benda :


1. Tusuk Gigi 
Jangan suka mencongkel-congkel keburukan hati orang. Sebaliknya, carilah kebaikan orang lain yang terselip, yang tidak kelihatan selama ini.

2. Penghapus 
Hapus semua kesalahan orang yang menyebabkan kita sakit hati.

3. Pensil 
Tulis dalam hati: berkah/anugerah yang kita terima setiap hari.

4. Plester
Semua luka hati dapat disembuhkan, selama kita mengizinkannya.

5. Karet Gelang 
Bersikaplah fleksibel, bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat terwujud.

6. Permen Karet
Bila kita sudah berkomitmen, lakukan semua dengan ikhlas dan selalu setia, seperti permen karet yang terus menempel.

7. Permen 
Berilah senyum manis ke setiap orang yang kita jumpai, karena senyum seperti permen, semua orang menyukainya.

Ingatlah : Waktu seperti sungai, kita tidak bisa menyentuh air yang sama untuk kedua kalinya, karena air yang telah mengalir akan terus berlalu dan tidak akan pernah kembali.